Terapi Target

Dalam masa sepuluh tahun terakhir, pengobatan kanker memasuki era baru dengan munculnya terapi target (targeted therapy). Inilah jawaban selama lebih dari 100 tahun penelitian. Harapan sekaligus tantangan.

Perang terhadap kanker sudah dilakukan sejak penyakit ini ditemukan. Begitu panjang perjalanan manusia menaklukkan kanker. Hasilnya? Tidak terlalu memuaskan. Setiap hari dan menit, masih ada manusia di muka bumi yang terenggut nyawa karena kanker.

Selama bertahun-tahun, terapi untuk membunuh sel ganas yang merampas hak hidup sel-sel normal dalam tubuh manusia, hanya mengandalkan agen sitotoksik yang dikenal dengan kemoterapi. Dampak kemoterapi terkadang lebih dahsyat dibandingkan kemoterapi itu sendiri. Bahkan di awal tahun 50-an, kemoterapi menggunakan nitrogen mustrad yang notabene merupakan bahan baku pembuat senjata perang. Bayangkan saja efek sampingnya!

Perlahan, agen-agen kemoterapi yang lebih “bersahabat” mulai dikembangkan. Mulai era sikofosfamide di tahun 60-an hingga taxane di era 90-an. Angka harapan hidup penderita kanker mulai merangkak naik. Tetapi, efek samping obat-obat kemoterapi tersebut masih tetap saja membebani pasien. Berawal dari “niat” untuk mencari obat terbaik dalam hak efikasi dan efek samping minimal, akhirnya terapi target dikembangkan.

Targeted Therapy atau terapi target merupakan buah dari penelitian selama lebih dari 100 tahun. Inti dari terapi target adalah memahami karakter sel kanker yang sebenarnya, dan yang membuatnya berbeda dengan sel-sel normal. Harapannya, agar terapi terhadap kanker lebih fokus, langsung membidik sasaran. Mengingat pertumbuhan sel kanker amat cepat, maka untuk menghambatnya pun dibutuhkan senjata yang juga bisa membunuh dengan cepat. Agen sitotoksik pun sebenarnya mampu melakukan peran sebagai pembunuh cepat. Tetapi sayangnya, ada sel-sel normal yang memiliki karakter mirip sel kanker yang terkena dampaknya. Terapi target menjawab semua kelemahan tersebut.

Terapi target pada prinsipnya adalah mengidentifikasi fitur-fitur sel kanker. Ilmuwan penemu terapi target bekerja keras mencari perbedaan-perbedaan yang spesifik antara sel kanker dan sel normal. Informasi yang didapatkan lantas digunakan untuk mengembangkan sebuah obat yang bisa membidik sasaran dengan tepat, yakni sel kanker, tanpa mengganggu sel-sel normal. Dampaknya tentu saja seperti yang diharapkan semua orang, sel kanker bisa dilumpuhkan dan lebih sedikit efek samping.

Masing-masing terapi target memiliki perbedaan cara kerja meskipun tidak banyak. Tetapi semua memiliki tujuan yakni mencegah atau menghambat kemampuan kanker untuk tumbuh, membelah, memperbaiki diri, atau berkomunikasi dengan sel-sel lain. Perbedaan jenis terapi target diklasifikasikan menjadi tiga kategori. Beberapa terapi target lebih fokus pada komponen di dalam sel kanker. Terapi target jenis ini menggunanan molekul-molekul kecil yang bisa masuk ke dalam sel dan merusak fungsi-fungsi sel dari dalam sampai sel kemudian mati. Ada lagi jenis terapi target yang bekerja pada bagian luar sel, yakni pada reseptor-reseptor di permukaan sel. Tipe ini disebut antibodi monoklonal. Satu lagi terapi target lebih fokus pada proses angiogenesis sel kanker, dengan cara “mematikan” pembuluh darah yang menyuplai oksigen ke sel kanker sebagai sumber kehidupan sel.

Penemuan terapi target ini adalah sebuah terobosan sekaligus harapan bagi penderita kanker. Tetapi sampai saat ini, terapi target dikembangkan bukan untuk menggantikan terapi konvensional. Karena terapi dengan antibodi monoklonal atau anti-angiogenesis akan menunjukkan hasil baik bila digunakan dalam jangka pendek dikombinasikan dengan terapi konvensional. Ini hanya awal dari era terapi target. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi kanker mana yang lebih baik diterapi dengan antibodi monoklonal atau dengan anti-angiogenesis. Masih banyak pula target-target yang bisa dijadikan sasaran. Masih banyak lagi jenis kanker yang belum mendapat sentuhan. Masih..dan masih banyak lagi tantangan.

source: majalah-farmacia.com

Posted on 22/10/2011, in Kesehatan Payudara. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: