Istri Kena Kanker Payudara, Suami Harus Bagaimana?

Nurul Ulfah – detikHealth

 Jakarta, Payudara adalah simbol keindahan wanita, itulah mengapa payudara menjadi daya tarik dan memiliki fungsi seksual. Namun bagaimana jika istri Anda harus kehilangan payudaranya karena terkena kanker payudara? Masihkah Anda mencintainya?
Kanker payudara saat ini menjadi ancaman setiap wanita karena merupakan jenis kanker dengan jumlah kasus terbanyak di dunia sekaligus penyebab kematian terbesar pada kanker wanita.

“Dulu, kanker serviks (rahim) menempati urutan pertama penyebab kematian, tapi sekarang berubah menjadi kanker payudara, dan kebanyakan diantaranya ditemukan dalam stadium agak lanjut,” ujar dr. Asrul Harsal, SpPD, K-HOM dalam acara Temu Pasien Kanker Payudara yang digelar atas kerjasama Sanofi Aventis dan RS Kanker Dharmais di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (19/8/2009).

Saat seorang wanita divonis terkena kanker payudara, berbagai macam pikiran muncul di otaknya. Mulai dari takut mati hingga kekhawatiran tidak dapat membahagiakan suami. Hal ini sangat wajar, mengingat payudara merupakan organ yang berperan penting dalam menjalani hubungan seksual.

Hal itu pun dibenarkan oleh Yulia (51 tahun) yang juga divonis terkena kanker payudara pada usia 45 tahun. “Saya kaget, bingung dan sedih,” ujarnya. Namun beruntungnya Yulia memiliki seorang suami yang sangat mengerti keadaannya.

Suami Yulia, Ben (59 Tahun) yang hingga kini masih setia mendampinginya itu awalnya juga kaget dan sangat terpukul mendengar pemberitahuan dokter. “Setelah tahu dari dokter bahwa istri saya kena kanker payudara, saya nggak bisa tidur,” ujarnya. Wajar saja, karena selain si pasien yang terkena vonis, orang yang paling menderita dengan adanya fakta itu adalah pasangan.

“Yang saya lakukan setelah itu adalah menuruti semua kemauannya. Hanya ada kata ‘iya’ dan ‘ayo’ untuk istri saya. Saya berusaha menjadi lebih sabar dan mencintai istri saya, karena saya sangat kasihan melihatnya menderita,” ujar Ben.

Tidak berapa lama kemudian, Yulia pun sadar bahwa ia tidak bisa tinggal diam dan berniat untuk melawan penyakit kanker yang kemungkinan merenggut payudaranya itu.

“Pada tahun 2003 akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat satu payudara saya,” ujar ibu dari 3 orang anak tersebut. Untungnya, kanker yang dideritanya masih berada pada stadium dini dan belum menjalar ke bagian tubuh lainnya. Setelah menjalani 6 kali kemoterapi di RS. Kanker Dharmais Jakarta, Yulia pun dinyatakan bebas dari kanker payudara.

Yulia pun sangat bersyukur memiliki suami seperti Ben yang sangat setia dan sabar, dan tidak melihat payudara hanya sebatas fungsi seksual saja, karena tidak sedikit di luar sana suami-suami yang menceraikan istrinya karena terkena kanker payudara.

“Saya punya teman yang juga menjalani kemoterapi, tapi justru didatangi suaminya dengan membawa surat-surat perceraian. Mungkin karena dia belum punya anak jadi bisa cari yang lain lagi yang masih utuh,” tutur Yulia.

Sungguh tragis rasanya, ketika pasangan hidup yang berjanji setia sehidup semati memilih untuk meninggalkan orang yang dinikahinya hanya karena masalah payudara.

Namun Yulia mengaku, kehidupan seksnya dengan suami pasca pengangkatan payudaranya tidak pernah berubah. “Tidak ada yang berkurang, lancar-lancar saja kok,” ucapnya. “Menjadi suami istri itu kan bukan hanya karena masalah seks atau nafsu saja, tapi juga masalah hati,” ujar Yulia.

Sebagai suami, Ben juga merasa bahwa ia harus menerima istrinya apa adanya. “Sejak pacaran lalu kemudian menikah, saya menerima istri saya dalam keadaan utuh. Tapi ketika tidak utuh lagi, saya memilih menemaninya karena dia sudah menjadi teman hidup saya jadi tidak mungkin saya meninggalkannya,” ujar Ben. “Saya berusaha menjadi dan berada di posisi istri, dan istri pun demikian, jadi intinya harus ada saling pengertian,” tambahnya.

Istri memang bukan sekedar alat pemuas nafsu suami, payudara juga bukanlah segala-galanya. Dengan adanya cobaan yang datang pada istri, disitulah kualitas suami terlihat, apakah setia atau tidak.

“Jadi, jangan sampai melirik payudara yang lain kalau sampai istrinya terkena kanker payudara,” celoteh dr. Lula Kamal yang bertindak sebagai MC di acara tersebut.

Posted on 22/10/2011, in Kesehatan Payudara. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: